Wednesday, May 12, 2010

Surat Cinta

Kepeda seorang lelaki yang mengajariku menggores tinta..

Untuk Rifqi;

Ini kali pertama aku berani mengatakan apa yang sekian lama kurahasiakan darimu, Rifqi. Hanya dua kata yang mampu menjelaskannya. Aku mencintaimu. Apakah itu membuatmu mengerti? Pikirmu, aku pasti menganggap itu terlalu sederhana sehingga mudah bagiku untuk mengucapkannya, kan?

Sebenarnya, aku sendiri masih belum memahaminya, Rifqi. Aku mencintaimu. Hanya itu. Aku tak punya kata lain. Hanya karena itukah Tuhan bilang aku berdosa? Kenapa? Aku selalu bertanya. Tapi, Tuhan tak pernah menjawab. Dia tak ada dimanapun.

Jika besok kutemukan Tuhan, aku pasti akan menanyakan; apa salahku mencintaimu, Rifqi.


Bukankah setiap orang berhak mencintai?

Bagiku, kau selembut api lilin-lilin kecil yang bergoyang sendu disepanjang lorong tempatku berjalan setiap malam, Rifqi. Secantik noktah emas kunang-kunang yang berlarian diantara pucuk-pucuk ilalang di sawah belakang rumahku. Seperti bunga-bunga kenikir yang mengangguk bersahaja kepada matahari dan capung-capung yang mencumbunya tanpa kata. Seperti silir udara yang menghantar buih ombak kedalam pelukan pasir putih~hanya untuk menayampaikan pesan yang begitu tergesa~lalu, membawanya kembali ketengah lautan dengan penuh kesetiaan. Seperti bisik mesra seekor kupu-kupu pada kekasihnya yang tak mampu ditangkap angin. Dan, kau juga, seperti tirai-tirai hujan yang menari lentik dalam pacuan detak jantungku saat aku melangkah lirih diatas rerumputan pada suatu malam yang hening penuh rintih kesakitan; bahkan, aku masih ingat, tatapanmu sering ku pakai untuk menghapus air mata.

Maaf.

Aku tak pernah bisa berkata labih dari itu. Aku lebih sering menulis apa saja yang mestinya dapat kau mengerti di dasar kolam yang pendar airnya sama sekali tak mampu kau pahami. Ibuku bilang, hidup bagai secarik kertas usang penuh tulisan mimpi yang akan pergi begitu saja diterbangkan angin dan hilang dalam sekejap, terhapus jejak-jejak langkah hujan.

Semula aku tidak inging mempercayai itu. Tidak pernah ingin. Sebab, suatu kali dulu, tanpa kau sadari, kau ajari aku, bagaimana menggores tinta dengan bijaksana diatas secarik kertas usang itu agar dia bisa tetap abadi. Meluluhkan perasaan angin dan hujan, lalu berubah menjadi burung-burung kecil bersayap putih yang telah bersiap terbang mengejar matahari. Kau ajari aku cara meneteskan air mata dengan amat perlahan sehingga hanya malaikat di kedua bahuku yang mampu mendengarnya (tanpa pernah memberitaukannya pada Tuhan, kukira). Lalu, kau ajak kedua kelopak bibirku bergerak, mengucapkan kata-kata yang akhir-akhir ini sangat kubenci; doa.

Kaukatakan padaku; pejamkan matamu, tidurlah dengan lelap dibahuku. Kau katakan lagi; ini ujung kemejaku, pakailah untuk mengusap air mata di pelupuk matamu itu. Dan, kaukkatakan lebih perlahan lagi; mintalah apa saja yang sanggup aku berikan, tapi kumohon, jangan pernah menangis lagi.

Kau bimbing aku seperti seorang bapak yang dengan sabar mengajari anaknya menaikan layang-layang, tinggi berlari menyapa bintang-bintang. Benar. Kurasa, kau memang seperti bapakku. Tapi, hanya jenis kelaminmu. Yang lain berbeda. Bagaimana mungkin sepenuhnya kusamakan kau dengan setan?

Tak mungkin aku lupa tentangmu, Rifqi.

Kau lindungi aku seolah-olah aku kura-kura kecil yang tersesat; kau bantu akku berjalan kembali menuju lautan untuk menemukan keluargaku. Kau tampak samar dan berkabut dimataku, tetapi begitu jelas, bagitu nyata dalam mimpiku.

Jadi, apa salahku mencintaimu?

Kau tau doa yang kulafalkan kini tidak lagi seperti yang kau bisikan. Harapan yang kuceritakan tidak lagi pernah kusampaikan pada Tuhan. Aku membenci-Nya. Aku takut Dia mengkhianatiku lebih dari yang pernah Dia lakukan padaku; dengan mengirimku hujan setiap hari dan mempertemukanku denganmu. Aku sudah lagi tak percaya pada-Nya. Kau tau, kan, Dia terlalu mengatur hidupku. Mungkin, aku sudah gila.

Pertemuan denganmu begitu manis sekaligus pahit. Kau menyelam dalam hatiku seperti matahari terbit. Seperti bunga-bunga yang semula kuncup, lalu mulai bermekaran pada saat pergantian musim. Saat bersamamu, aku mampu merasakan kebahagiaan yang sempurna sekaligus kepedihan yang dalam; kutemukan kegelisahan yang panjang sekaligus kenikmatan yang naluriah; keheningan yang begitu damai sekaligus kenangan yang amat pahit.

Maaf.

Saat kau mengetahui ini, mungkin kau akan pergi dariku atau aku yang tak mungkin lagi tinggal disampingmu. Kau akan membiarkaknku berjalan sendiri lagi, iya, kan? Apa Tuhan tidak punya hati? Bukankah keinginanku begitu sederhana? Aku hanya ingin kau miliki. Terlalu hinakah harapan ini?
Aku sudah tau jawabannya. Ya. Aku sudah tau. Ssudah lama sekali aku tau.

Aku selalu sendiri kini; di lorong sepi tempat kita dulu pernah saling melukis mimpi, menyulam bait-bait puisi, meneriakkan kesakitan dan bertanya-tanya tentang Tuhan. Tempat pertama kali kita bertemu, kau ingat?

Maaf.

Kalau aku pergi hari ini, itu bukan karena aku marah padamu. Justru karena aku terlaalu menyayangimu. Mungkin, kau bertanya-tanya tentangku, mungkin juga tidak. Tapi aku harus mengatakannya, kan? Di sini di dalam sini, jauh di dasar hatiku, ada banyak sekali rahasia yang ingin kubagi denganmu. Tapi, entahlah. Aku tak punya satupun kata yang dapat ku gunakan untuk mulai mengatakannya.

Kau tau, malam ini, disini, di tempat kita pertama kali bertemu; dengan segalas bir dan sebatang rokok mengepul seperti cerobong asap kereta api, aku mulai menulis puisi tentangmu. Tentang senyummu yang terus saja membelai waktu dalam pikiranku. Tentang pelukanmu yang begitu hening, begitu hangat melemahkan rasa sakitku. Tentang jari-jarimu yang halus, yang selembut kabut, yang sering kugunakan menggenggam udara untuk kuhirup. Tentang bahumu yang kokoh, lenganmu yang memberiku rasa aman, juga bongkah dadamu yang kuat, yang wangi tembakau. Oh, semua ini membuatku cengeng dan marah.

Aku seperti bisa merasakanmu berdiri dengan senyummu yang biasa-yang sepolos bayi- jauh didepan sana. Kau awasi aku dengan pandang sayangmu. Lalu kau tanya “kau tidak sedang menangis kan?”

Dan, ketika aku mendongak keluar, memandang segaris bulan sabit yang tampak samar dilangit, kau tau, tiba-tiba, baru kusadari bahwa telah lama tatapanku berkabut. Setiap sudut lorong tempat kali pertama kita bertemu seolah-olah tampak muram. Malam menjadi lebih gelap, menjadi lebih dingin daripada sebelumnya. Aku terus terpaku. Tak dapat kuselesaikan puisi tentangmu dengan kata-kata yang cantik, yang kuharap mampu meluluhkan tuhan. Betapa aku ingin kau miliki, kau dekap mesra. Kau lindungi seperti perempuan yang kau impikan.

Tapi aku tau, kau takkan pernah bisa mengerti ini. Dan memang aku tak mau memahaminya. Ini akan membuat kita sulit bernapas.

Kau tau, ternyata, aku terlalu takut untuk melihat senyummu, menatap ujung sepatumu, mendengar kata-katamu. Karena itu, aku harus pergi. Aku tak bisa terus ada di sisimu dengan harapan yang tak mungkin dikabulkan Tuhan, jika melihatku hari ini, kau pasti akan berkomentar dengan kata yang biasa kau lontarkan, “pecundang”. Aku ingin mendengar kata itu dari bibirmu sekali saja sebelum aku benar-benar pergi. Nyatanya, aku masih saja menyusuri tempat kali pertama kita bertemu, menulis puisi tentangmu, menghayalkan lelap dalam lingkaran lenganmu.

Masikah cinta dapat dipercaya, seperti juga Tuhan? Nyatanya, aku hanya punya itu. Cinta. Satu kata yang kupakai untuk melukiskan betapa aku ingin kau miliki. Betepa aku ingin kau lindungi. Betapa aku ingin menjadi perempuanmu. Menjadi satu-satunya perempuannmu. Yang akan memberimu seluruh hidupnya, yang akan setia mengangkat payungmu di setiap hujan menyapa, yang akan hanya memiliki dirimu, yang akan terus menulis puisi-puisi tentangmu, yang akan melahirkan malaikat-malaikat kecil untukmu, untuk menghapus kesepianmu. Hanya itu sesungguhnya yang ingin kusampaikan padamu, yang ingin kusampaikan pada Tuhan. Hanya demikian.

Tapi, karena Tuhan bukan manusia, Dia takkan pernah merasakan kesakitanku, merasakan harapan-harapanku untuk menjadi perempuanmu. Dia hanya bisa membisikkan ke telingaku bahwa mencintaimu adalah dosa. Dan mengapa itu dosa, tak pernah sekalipun Dia memberi alasan.

Jadi, jika besok kutemukan Tuhan, Rifqi, aku pasti akan menanyakan; apa salahnya mencintaimu? Kenapa aku tak boleh mencintaimu? Bukankah kau dan aku bisa menjadi sepasang manusia tanpa harus meninggalkan-Nya? Mengapa cinta tiba-tiba bisa menjadi dosa? Toh, aku tidak melakukan apapun yang menghina-Nya…

Kau takkan pernah bisa memberiku jawaban, demikian Tuhan, bukan?

Dan karena pertanyaan itu tak pernah terjawab, kau tau, aku tak dapat menyelesaikan puisi-puisi tentangmu dengan kata-kata yang baik. Pada akhirnya, aku hanya dapat termenung memandang langit hitam dengan sedikit pertanyaan; kemana perginya bulan dan bintang yang sejak tadi setia menemani keheningan malam?

Tiba-tiba aku tau apa yang harus kulakukan; meninggalkan tempat kali pertama kita bertemu. Tanpa menulis puisi-puisi tentangmu lagi.

Maafkan aku karena berani mencintaimu.

Perempuan yang tak mungkin memilikimu,
Nida s.

7 Comment:

Unknown said...

so sweet nih... :p :D

Nida Shafiyanti said...

hehe masa lalu :P

naninani said...

so sweet nda..... wahh...

naninani said...

so swet nda.............

naninani said...

nda? bikinan lu sendiri?????

hebaaaaaaaattttttttttttt

yoshi said...

copaste ya da ?

Nida Shafiyanti said...

gak copast ko, ngetik sendiri nih gw! haha :D

 
Silent Blogger Template by Ipietoon Blogger Template