Bagaimana caranya aku mengucapkan kata-kata itu? Bertemu denganmu saja sudah membuatku mati kutu. Entah dengan cara apa lagi ku harus mengungkapkannya. Memberitaumu tentang yang ku rasa, yang ku pendam tidak lama ini. Kata-kata itu tersekat tepat di pangkal tenggorok-ku. Tidak bisa keluar dan terlalu sakit untuk ku telan kembali. Sungguh menyedihkannya diriku ini, yang tak mampu berbuat apa-apa, yang menikmati sakit yang menyiksa ini.
Ketika ku mulai memejamkan mata, semua menjadi gelap. Hanya mata hatiku yang dapat melihat. Dan dia selalu menemukan sosokmu. Dalam jutaan kenaifan-ku, semua tertuju kepadamau. Tak bisa aku berbohong lagi. Mungkin aku bisa menutupi rasa ini di depanmu, tapi tidak untuk hatiku. Memang munafik aku ini!
Sudah berulang kali aku memikirkan berbagai cara untuk memberitaumu. Lagi-lagi aku gagal dalam meyakinkan diriku. Sulit sekali mewujudkan rencanaku, terlebih membuatku percaya diri untuk mengungkapkannya. Hanya tulisan-tulisan semu yang mengambang di anganku dan harapan yang takkan terwujud untuk kau ketahui.
Sangat mungkin untuk mengembalikan keadaan ini seperti dulu. Tapi entah kenapa masih ada ragu disana. Entah siapa yang membuatku bimbang untuk itu. Kadang ada rindu yang terselip dalam kesendirianku, kadang pula ada perasaan kosong yang ingin ku pertahankan. Aku memang terlalu labil dalam masalah yang sensitif ini. Aku tidak ingin kesalahan yang sama terulang untuk yang kesekian kali.
Napasku sesak ketika kau tangkap sosokku dalam matamu. Mukaku memerah ketika kau genggam tanganku. Dan ada perasaan nyaman ketika kau rangkul dan tersenyum padaku. Ada sebuah magis yang kau berikan dan entah mengapa selalu membuatku terbuai. Tapi ada sesuatu yang janggal ku rasa, dan aku tidak tau itu apa. Ingin sekali membuang jauh-jauh perasaan buruk itu. Ingin sekali selalu berada didekatmu. Ingin sekali mengatakan 'aku masih mencintaimu'


0 Comment:
Post a Comment