Untukmu
Kertasku masih putih bersih, penaku masih terapit oleh jari tengah dan telunjuk-ku, seolah enggan untuk menyentuh si kertas. Lautan pikiran ku jauh menerawang, entah berada dimana sekarang. Sampai, aku bermuara pada satu titik. Masa lalu.
Bibirku membentuk simpul senyum ketika mengingat segala kenangan yang kita buat pada saat kita masih menjadi sahabat. Walaupun tak banyak yang kita lakukan sewaktu dulu, hanya bercerita tentang satu sama lain melalui pesan singkat ataupun chatting. Waktu yang kita habiskan bersama begitu berharga, begitu damai, dan tanpa pertengkaran, kebencian ataupun sakit hati.
Penaku meluncur ke atas kertas, baru satu garis yang aku buat. Seketika aku terdiam, pikiranku jatuh pada peristiwa beberapa hari yang lalu. Jantungku berdegup kencang mengingat baris demi baris pesan yang kau tinggalkan pada whatsapp-ku. Pena yang ku genggam semakin erat, tak kuasa menahan emosi yang kupendam dari kemarin. Mataku mulai berair. Entah apa yang aku rasakan sekarang. Semuanya seakan membaur menjadi bongkahan emosi yang sulit diuraikan.
Kata per kata yang kau kirimkan tanpa perasaan itu terus mengusik hatiku. Se-hina itu kah aku di matamu? Teganya kau mencampakanku dan memutuskan untuk tidak menemuiku selamanya. SELAMANYA, itu yang kamu sematkan dalam kalimatmu. Aku tidak mengerti arti kata itu bagimu. Selamanya, waktu yang sangat lama.
Kamu tau, tidak mudah bagiku untuk memasukkan dirimu kedalam bagian dari hidupku. Butuh bertahun-tahun bagiku untuk mempercayaimu. Dan sekarang, ketika hati dan pikiranku tak dapat terlepas darimu, kamu malah memilih untuk menjauhi-ku.
Kamu bilang aku selalu menuntut. Aku hanya punya satu permintaan. Dan ketika kamu tidak dapat memenuhinya, aku tidak akan memaksamu. Aku sudah mengatakan itu berulang-kali, tapi kamu salah mengerti. Kamu malah mengartikannya sebagai bentuk kemarahan dariku.
Kamu bilang aku tidak mengerti dirimu. Aku mencoba memahami keadaanmu. Ketika kau menawarkan sesuatu yang lain, aku menolaknya. Bukan karena aku tidak suka. Tapi aku tidak ingin merepotkanmu. Aku tidak ingin menjadi beban dari masalahmu. Dan sekali lagi, kamu salah mengartikan maksudku.
Dan ketika semua ini sudah terjadi, aku tak tau lagi harus berbuat apa. Kata-kata kasar yang kau luncurkan semalam, menyisakan bekas luka. Entahlah, siapa lagi yang harus disalahkan. Aku harap kamu bisa mempertanggung-jawabkan segala tindak dan ucapanmu. Aku sudah membantumu dengan mem-block semua jejaring sosial yang berkaitan denganku. Kau tak usah repot mengusirku, karna aku akan pergi sendiri untuk menjauh darimu.
Tiba-tiba saja terbesit perasaan bersalah. Salahku memasukkanmu ke dalam hubungan yang kompleks ini. Ah, kepalaku pusing memikirkan semua itu. Rasanya, air mataku tak dapat kubendung lagi. Ingin semuanya kembali seperti awal,



0 Comment:
Post a Comment