Kencan pertama selalu memberi kesan bukan?
This is my story..
First of all, I want to tell about my first boyfriend and
also my first ex. Hehe
Sebagian besar orang yang aku kenal pasti sudah tau Ami,
right?
Yap, seinget aku kencan pertama kita waktu kita pacaran itu
di La Piazza, Kelapa Gading. Tepatnya di salah satu resto yang udah terkenal
dimana-mana. Dan aku inget banget waktu itu aku pesan Mie+Chiken Katsu Teriyaki
Saos yang sekarang jadi menu favorit aku kalau ke sana. Kita ke sana setelah
pulang kuliah, sudah mulai sore dan anggep aja itu dinner pertama kita. Kita take
bangku di outdoor-nya. Hari mulai gelap dan awan berubah hitam. Kalau bisa di katakan,
itu adalah salah satu dinner yang romantic dengan lilin yang bergoyang dalam
gelas-gelas kecil. Dan malam itu background-nya rintik-rintik hujan, pokoknya
feel nya dapet banget, hihi…
Layaknya pasangan yang baru jadian, kita masih terlihat
canggung, terutama Ami yang memang orangnya rada kaku kalo sama cewe. Tapi
overall, first date kita berjalan asik dan syahdu (aseekk) haha.. sampai
saatnya kita pulang…..
Karena sudah malam, dan makanan kita juga sudah habis
akhirnya kita memutuskan untuk pulang. Ami gak bawa jas hujan saat itu, eh apa
bawa ya? Aku lupa. Pokoknya kita pulang gak pake jas hujan. Dan ternyata, saat
kita pulang, hujan turun semakin deras. Akhirnya kita memutuskan untuk berhenti
meneduh. And as a gentleman, he opened his jacket and gave it to me. Oh my god,
sempet bengong dan akhirnya tersadar. Aku menolak mengenakannya, karena aku pikir
dia yang ngebonceng aku, mestinya dia yang lebih butuh jaket itu supaya gak
ke-angin-an. Tapi dia tetap memberikannya, dia bilang kemeja putih yang aku
pakai terlalu tipis dan takut aku kedinginan. Aku speechless, dan hanya bisa
menurut. Kita memutuskan untuk menerjang hujan, karena hujan malam itu tidak
cepat berhenti. Akhirnya, Ami mengantarku sampai di depan kost-an dengan basah
kuyup dan selamat. Dan Ami melanjutkan perjalanan jauhnya menuju rumahnya di
Bekasi Timur.
Malam itu aku sempat demam. Badanku sedikit hangat, dan
hatiku juga :)
Ami memberi kesan hangat di malam September, 2011 yang
dingin..
And then, let’s began the second story~
Sebenarnya aku tidak tau pasti kemarin malam adalah kencan
atau bukan. Ya anggap saja seperti itu, walaupun aku tidak tau apa yang ada
dipikirannya setelah kita jalan kemarin.
Namanya Abang Jelek (biasa dipanggil seperti itu) hehe, dia
kakak tingkat-ku di kampus. Anak Matematika 2010 tapi umurnya lebih tua :D haha
Okey, aku sudah lama kenal dengan dia tapi dekatnya
baru-baru ini, hemm kayanya sih. Kita sering chatting-an di LINE, dan
chatting-an di LINE. Ya, aku juga tidak tau pasti kalau hanya chatting bisa di katakan
dekat atau tidak. Pokoknya seperti itu. Aku bingung untuk menyimpulkannya,
takut salah mengartikannya.
Sumpah dia itu orangnya nggak banget! Ngeselin abis! Kerjaanya
ngatain aku terus, bilang aku oneng lah, sok tau dan sebagainya. Dan dia sering
fitnah aku, masa aku dibilang gendut. Padahalkan nggak! Hahaha nggak mau
ngakuinnya maksudnya :p
Tapi, yaa begitulah. Gak pernah kehabisan kata-kata kalo
sama dia. Ada aja yang di komentarin. Kalo sama dia, aku gak perlu merangkai
kata-kata untuk terlihat seperti cewe manis. Ya bego lah, ya jelek lah,
semuanya aku lontarin ke dia tanpa takut membuatnya tersinggung. Umurnya emang
udah tua, tapi kelakuan sama perkataannya jauh dari kata dewasa. Kadang-kadang doang
sih omongannya bener, selebihnya tau dah apaan. Haha
Oiya, back to the topic. Kemarin dia main ke Tangerang, kota
ku tercinta :) dia sih bilangnya males banget ke Tangerang, jauh, plosok, udah
kaya mau mudik ke sana dan bla bla lainnya. But, in the end doi ke Tangerang
juga. Dia minta hari buat bukber sama aku yang lusa nya mau lebaran. Suwer,
ngeri aku ijin sama mamah, tapi akhirnya di ijinin juga. Dan dengan se-enak
jidatnya dia bilang, ‘padahal udah berdoa supaya gak dapet ijin, eh ngataunya
dapet yaudah deh terpaksa, daripada dibilang php lagi’. Pengen aku jitak tu
orang pas bilang kaya gitu! Haahhh gak tau diri dasar.
Pertama dateng aja udah bikin aku repot. Aku sudah bilang ke
dia buat janjian di depan salon tapi dia malah parkir di sebrangnya deket
angkot-angkot putih. Aku kesulitan mencari mobil yang terparkir di sana,
akhirnya aku memutuskan untuk jalan terus sampai ke tempat ke dua yang sering
jadi tempat parkir angkot-angkot putih juga. Dan ternyata dia parkir di tempat
pertama dan mobilnya berwarna putih. Fix, baru dateng udah bikin aku jalan kaki
lumayan jauh. Ada kali setengah jam buat nemuin dia -..- Forget it!
Setelah duduk manis di dalam mobil, aku sok-sok an menjadi
tour guide, dengan trayek Lippo-Tol-SMS. Selama perjalanan aku menjelaskan ini
itu, membanggakan ini itu dan dia selalu meremehkan ini itu, mengeluh ini itu
dan begitu terus. Tapi, aku menikmati
perjalanan kita, gak garing, apalagi ditemani lagu-lagu dari siaran radio
favorit-ku GEN FM (iklan dikit) hehe
Setelah sampai di tujuan yaitu Summarecon Mall Serpong, kita
ngobrol-ngobrol sedikit, diem sebentar ngobrol lagi. Keliatan masih rada kaku
sih, tapi sejauh itu aku merasa nyaman-nyaman aja. Kita berdebat mencari tempat
berbuka, dia nanya aku maunya di mana. Jujur, aku lebih suka mencoba tempat
makanan yang baru, yang nggak itu-itu aja. Tapi aku memilih jawaban yang
netral, ‘terserah lu aja bang’. Udah keliling kesana kemari, akhirnya dia
memutuskan untuk makan di salah satu resto jepang yang menyediakan menu ayam
faforitnya. Okay, aku manut aja.
Masih jam 5 sore, kita sudah di tempat makan. Sambil menunggu
berbuka, aku menjadi pendengar yang baik ketika dia berbicara tentang
pekerjaannya. Atmosfir nya sedikit berbeda saat itu, terselip nasihat-nasihat
sebagai seorang kaka kepada adiknya. Dia selalu bertanya tentang kuliah ku dan
menyuruhku untuk lulus 4 tahun.
Tiba saatnya berbuka, kita makan dengan khusyuk. Tanpa ada
yang memulai pembicaraan. Dan seperti biasa, makanan-ku tidak habis karena lauk
yang dia pesan cukup banyak. Ada yang menggelitik telingaku ketika dia melihat
makan ku yang tidak habis ‘gak menghargai banget, hasil kerja keras nih’. Tapi,
apa daya, perut ku sudah tak berdaya menerima makanan apapun.
Tiba saatnya pulang…
Sempet nyasar karena dia ambil jalan yang dia sendiri gak tau
bener apa nggak. Sumpah sok tau nya parah banget! Tapi akhirnya kita, eh aku
menemukan jalan yang benar kembali. Dalam perjalanan pulang dia bilang gak tau
pulangnya lewat mana (padahal tadi sore udah aku tunjukkin jalan pulang
termudah untuk diinget). Sebagai tuan rumah yang baik hati dan bertanggung
jawab, aku anter dia sampai dia inget jalan pulangnya, yaitu di lampu merah
Islamic.
Malam itu hujan rintik-rintik, dan aku di turunin di tengah
jalan dalam keadaan yang tidak membawa payung. Aku pikir angkot yang menuju
rumah ku masih ada, tapi jalanan malam itu begitu sepi. Aku menunggu di tengah
hujan tanpa ada pelindung apapun. Di jalanan hanya terlihat satu dua mobil, pas
aku lihat jam. Jarum pendek menunjuk ke angka 7. Yasudah aku berjalan lunglai
menuju pangkalan ojek. Abang ojeknya tidak memberikan pelayanan yang baik,
tidak ada jas hujan untuk melindungi tubuhku. Akhirnya aku hujan-hujanan naik
ojek yang lagi kejar setoran, ngebut. Dan pelengkap malam itu adalah, gang-gang
yang menuju rumah ku sudah pada di rantai. Karena banyak dari penghuninya sudah
mulai pada mudik. Apes! Abang ojeknya muter-muter mencari jalan untuk sampai di
tujuan. Aku sudah kedinginan di belakang dan akhirnya sampai rumah dengan kaki
gemeter. Pagi-paginya sukses bikin aku bersin-bersin.
Pesan-ku untuk mu bang:
Jangan ke Tangerang lagi yah, pliisss….


0 Comment:
Post a Comment