Wednesday, May 11, 2016

Pria Kidal

Pria kidal? Hm entahlah, mungkin aku harus menyebutnya anak laki-laki kidal. Umurku 14 tahun saat pertama kali aku melihatnya. Aku duduk tepat di depannya, entah dia mengingatnya atau tidak. Tapi pada saat itu aku bisa melihatnya dengan jelas setiap lekuk wajah dan lehernya, bahkan aku menghitung tahi lalat di lehernya yang putih itu. Dia hanya tertunduk dan mencatat detil percakapan rapat pada siang itu, dan aku hanya fokus padanya. 40 menit pun berlalu, aku merasa sedih waktu berlalu begitu cepat namun di waktu yang sama aku begitu gembira bisa satu divisi dengannya, ini artinya aku akan bertemu dengannya lebih sering. Saking bahagianya, aku terjaga malam itu, membayangkan wajah lugunya, merindukannya. Ya, aku rasa aku jatuh cinta pada pandangan pertama, cinta monyet pertamaku untuk seorang anak laki-laki yang aku tidak tahu namanya. Aku terlalu larut dalam memandanginya sampai lupa bertanya namanya. Walaupun ada kesempatan, mungkin aku tidak akan dapat menanyakan namanya, karna lidahku kelu dan jantungku berdegup sangat kencang.

Tak terasa waktu berlalu, merubah setiap kejadian menjadi kenangan, merubah yang terlihat jelas menjadi memori yang samar, merubah rindu menjadi semakin rindu. Pertemuan pertama memberi kesan yang begitu hebat dalam hidupku, bahkan dia menjadi sosok yang selalu aku cintai sekaligus aku benci hingga saat ini. Jika namanya terpintas dalam benakku, seluruh memori itu muncul, membuatku merinding dan hatiku kelu, seolah dirinya telah masuk dalam alam bawah sadarku. Kenangan manis, indah, sedih, pilu bercampur hanya dengan mengingat dirinya. Pertemuan-pertemuan kita begitu singkat, bahkah kesepuluh jariku lebih dari cukup dalam menghitungnya. Tapi memori yang tertinggal sangat melekat dan rasa cintaku jatuh terlalu dalam hingga aku sulit mengendalikannya.

Lucu, jika aku mengingat kalau aku mencintai seseorang yang berumur 14 tahun, bahkan sampai sekarang aku hanya merindukan sosoknya saat dia masih pubertas dulu. Bagaimana dengan sekarang? Entah aku tidak tahu sama sekali perkembangannya. Aku sudah mencarinya di berbagai social media yang ada, bahkan dia tidak ada di Facebook. Orang macam apa yang tidak ada di Facebook?! Jika aku membayangkannya, aku hanya mengingat wajahnya 9 tahun yang lalu. Hanya itu memori yang ku punya. Jadi seperti apa dia yang sekarang, hanya imaji liar yang bekerja.

Beberapa hari lalu, aku bermimpi tentangnya. Mimpi yang indah aku rasa, karna aku tidak mengingat sebagian mimpi itu. Mengorek ingatannya dalam mimpi, membuatku ingin menulis tentangnya lagi dan lagi. Tak habis pikir apa yang telah aku lakukan. Bertahun-tahun mencintai seseorang yang tidak jelas, yang sudah mencampakannpku begitu kejam, yang malah memacari sahabat baikku, yang kini hilang entah kemana dan bagaimana rupanya saat ini. Aneh bukan?

Aku mencintainya tanpa syarat, tanpa kepastian, tanpa balasan, tanpa tujuan. Aku mencintainya karna itu berjalan begitu saja, sampai-sampai aku tidak merasakan cinta yang sebegitu kuat selain untuknya. Aku sudah berusaha mengubur memori itu. Tapi semakin keras usahaku, semakin kuat rasa rinduku pada sosoknya. Jika suatu hari aku bertemu dengannya (hari yang sangat sangat aku harapkan, dan tidak aku harapkan dalam satu kata sekaligus), aku tidak tahu harus berbuat atau berkata apa. Satu ucapan 'Hai!' mungkin.

0 Comment:

 
Silent Blogger Template by Ipietoon Blogger Template