Aku benci mengakui bahwa aku masih mencintaimu, berharap untuk tetap bersamamu, untuk jadi milikmu, lagi. Aku hampir hilang akal ketika setiap menit-detik, ku habiskan untuk memikirkanmu. Tapi, entahlah. Aku masih ragu, takut lebih tepatnya. mengingat kamulah orang itu. Orang yang entah bagaimana, membawa bahagia serta luka dalam waktu yang hampir bersama. Kamu yang selalu berusaha memberi semua yang ku minta, walaupun terkadang kau salah mengartikan ingin-ku. Kamu yang meminta maaf sebelum berbuat salah, sampai-sampai aku kesal mendengar maaf-mu berulang-ulang. Hanya kamu yang menjadikan aku wanita istimewa dan terlihat bodoh!
Aku memang tidak menangisi kepergianmu ataupun menyesali keputusanmu. Aku juga tidak mengerti mengapa waktu itu aku merasa lega. Aku merasa terlepas dari beban yang begitu berat dan menyiksaku. Aku bahkan tidak peduli dengan alasan konyolmu ketika kau memutuskan untuk meninggalkanku. Menjadi pacarmu adalah hal ter-absurd yang pernah aku alami.
Aku menyesali semua yang telah terjadi. kebersamaan kita begitu semu aku rasa. Terkutuklah diriku ini karena baru mengakuinya!
Pernah terbesit olehku untuk memberimu kesempatan kedua. Tapi langsung ku bunuh angan itu. Aku tidak ingin menyakiti dirimu lagi, atau lebih tepatnya, aku tidak ingin tersakiti untuk yang sekian kalinya. Kamu yang telah menggenggam erat tanganku dan berjanji untuk mencabut duri-duri ini. Tapi kau pergi begitu saja dan hanya meninggalkan harapan, yang ternyata tidak bisa kau penuhi. Aku memang wanita bodoh yang telah mempercayaimu.
Jujur saja, selama ini aku belum benar-benar merasakan debaran-debaran seperti yang kau rasa. Aku hanya berpura-pura dan berharap dapat merasakan hal yang sama denganmu. Namun, sampai detik ini pun aku tidak bisa menjadi seperti dirimu, yang dapat mencintai dengan tulus. Maaf, aku tidak bisa membalas segala yang kau beri.
Kesalahan terbesarku bukan karna aku mencoba mencintaimu, tapi karna aku telah membiarkanmu menaruh bibit-bibit cinta untukku. Dan maaf sekali lagi, aku belum bisa menyemai bibit-bibit itu dan menjadikannya bunga yang indah. Dan satu hal yang perlu kamu tau, kau belum sepenuhnya mengisi lubang-lubang dihatiku.
Aku rasa memang sebaiknya kita mengakhiri ini semua, bahkan lebih baik kita tidak memulainya dari awal. Tidak untuk kedua kalinya. Biarkan ini menjadi apa yang seharusnya terjadi. Biarkan semua ini berakhir sampai disini. Titik.
Aku memang tidak menangisi kepergianmu ataupun menyesali keputusanmu. Aku juga tidak mengerti mengapa waktu itu aku merasa lega. Aku merasa terlepas dari beban yang begitu berat dan menyiksaku. Aku bahkan tidak peduli dengan alasan konyolmu ketika kau memutuskan untuk meninggalkanku. Menjadi pacarmu adalah hal ter-absurd yang pernah aku alami.
Aku menyesali semua yang telah terjadi. kebersamaan kita begitu semu aku rasa. Terkutuklah diriku ini karena baru mengakuinya!
Pernah terbesit olehku untuk memberimu kesempatan kedua. Tapi langsung ku bunuh angan itu. Aku tidak ingin menyakiti dirimu lagi, atau lebih tepatnya, aku tidak ingin tersakiti untuk yang sekian kalinya. Kamu yang telah menggenggam erat tanganku dan berjanji untuk mencabut duri-duri ini. Tapi kau pergi begitu saja dan hanya meninggalkan harapan, yang ternyata tidak bisa kau penuhi. Aku memang wanita bodoh yang telah mempercayaimu.
Jujur saja, selama ini aku belum benar-benar merasakan debaran-debaran seperti yang kau rasa. Aku hanya berpura-pura dan berharap dapat merasakan hal yang sama denganmu. Namun, sampai detik ini pun aku tidak bisa menjadi seperti dirimu, yang dapat mencintai dengan tulus. Maaf, aku tidak bisa membalas segala yang kau beri.
Kesalahan terbesarku bukan karna aku mencoba mencintaimu, tapi karna aku telah membiarkanmu menaruh bibit-bibit cinta untukku. Dan maaf sekali lagi, aku belum bisa menyemai bibit-bibit itu dan menjadikannya bunga yang indah. Dan satu hal yang perlu kamu tau, kau belum sepenuhnya mengisi lubang-lubang dihatiku.
Aku rasa memang sebaiknya kita mengakhiri ini semua, bahkan lebih baik kita tidak memulainya dari awal. Tidak untuk kedua kalinya. Biarkan ini menjadi apa yang seharusnya terjadi. Biarkan semua ini berakhir sampai disini. Titik.


0 Comment:
Post a Comment