Tadi malem aku membaca sebuah novel karya Orizuka. Salah satu penulis novel favoritku. Aku udah punya beberapa novel karangan dia dan sudah hampir semua novel yang dia terbitkan aku baca. Aku suka banget sama alur cerita yang dia buat, dan segala macam emosi yang di timbulkan saat membaca tulisannya. Kadang aku menitikan air mata, kadang aku cengar-cengir sendiri kadang aku tertawa lepas, dan dia selalu sukses ngebuat aku penasaran sama ending ceritanya. Oke, mungkin itu terlalu berlebihan, tapi aku bener-bener jatuh cinta pada saat pertama kali aku baca novelnya, yaitu Summer Breeze. Itu novel pertama yang ngebuat aku gak berpindah posisi selama membacanya. Aku berhasil di buat menangis tersedu-sedu sampai akhir ceritanya. Great job!!
Aku memang tipe orang yang sensitif ketika membaca, melihat atau mendengarkan sesuatu. Aku bakal betul-betul menghayati cerita yang aku baca kalau cerita itu memang menarik. Seperti juga tadi malam, saat aku membaca sebuah novel karya Orizuka. Aku benar-benar iri pada salah satu tokoh cerita dalam novel itu. Saat membacanya aku ingin sekali masuk ke dalam kehidupan mereka. Salah satu part yang aku suka adalah, ketika tokoh perempuan dalam cerita itu memendam perasaannya. Aku iri pada perempuan itu karena dia dapat merasakan cinta yang begitu dalam terhadap laki-laki yang dia suka. Aku seperti melihat masa lalu-ku dulu. Ketika aku benar-benar jatuh cinta pada seorang laki-laki. Cinta yang tulus dan begitu dalam. Aku sampai bisa menangis semalaman karena memikirkan pria itu, dan kaki ku yang lemas serta bibir ku yang terasa kelu ketika melihat sosok pria itu, entah syndrome apa yang aku derita dulu. Aku juga pernah merasakan sakit yang begitu dalam ketika pria itu bertindak kasar terhadapku dan memilih untuk meninggalkanku setelah memberiku angan-angan setinggi langit dan menaruh harapan-harapan terindah dalam hidupku, namun semuanya ternyata palsu. Tidak cukup dengan itu, dia bahkan meninggalkanku demi wanita lain. Aku ingin menjadi bagian dalam cerita di novel itu yang berakhir bahagia, tapi sayangnya aku harus menelan bulat-bulat kenyataan yang aku terima sekarang.
Itu kisah masa lalu yang sama sekali tidak ingin aku kenang. Tapi kilatan-kilatan masa lalu itu muncul begitu saja dan selalu menghantuiku. Memang perlahan aku sudah bisa mengendalikan emosiku, tapi waktu seakan berjalan sangat lambat untuk bisa menghilangkan luka yang begitu dalam. Aku sudah bisa menahan tangisku ketika sosok itu dan berbagai kenangan indah muncul, dan aku juga sudah terbiasa dengan sakitnya. Namun, entah mengapa aku sangat sulit untuk mengajak hati ini move on. Aku ingin mencintai seseorang dengan tulus tanpa harus di bayangi masa lalu. Aku benar-benar ingin merasakan cinta tanpa rasa takut. Aku juga ingin kisahku berakhir dengan bahagia.
Tuhan tolong hapus semua memori ku saat bersamanya.


0 Comment:
Post a Comment