Padamu sang pemilik hati,
Sudah lama aku tak menulis kata-kata cinta untukmu. Meliuk-liukkan pena ku dan mengukir namamu. Terbayang oleh ku sosokmu yang selalu ku rindu. Ya, ku rindu. Rindu yang teramat dalam. Selama ini aku hanya bercumbu dengan rindu. Dengan bayangmu. Ingin rasanya bertemu, meluapkan rindu yang tak tertahan ini.
Saat menanti senja, adalah saat-saat yang paling ku nanti. Menikmati karya Tuhan yang begitu indah sekaligus memilukan. Warnanya yang menyedihkan selalu menggoreskan ingatan-ingatanku padamu, sang pemilik hati. Di penghujung malam, selalu ku titipkan bisikan-bisikan doa pada sang bulan. Bulan yang melirik sangsi akan doa cintaku padamu, sang pemilik hati.
Seribu detik ku merindu, seribu doa ku panjatkan. Apakah kau merasakannya?
Satu cinta, hanya ada satu cinta untuk dua hati, bukan tiga apalagi seribu. Dua hati yang selalu merindu untuk bertemu. Dua hati yang tulus untuk saling menjaga cinta. Dua hati yang dimiliki olehku dan kau.
Sekian lama ku menanti. Tersiksa oleh rindu yang tak berarti. Temaram malam adalah saksi teriakan rinduku yang tak terdengar. Teriakan rindu yang bahkan tak terdengar oleh angin. Bisakah kau mendengar rinduku?
Setengah cinta yang ku miliki sekarang, seakan belum sempurna tanpa hadirmu. Malamku terasa panjang, saat ku menanti di balik jendela kamarku. Menanti sosokmu yang muncul dari pekatnya malam. Wahai sang pemilik hati, akan kah kau datang menyempurnakan setengah cintaku?


0 Comment:
Post a Comment