Wednesday, January 16, 2013

Musim Hujan = Musim Banjir


What do you say after looking at the picture above?
Can you imagine if you were in that position?

Oke, di atas adalah beberapa gambar banjir di Jakarta yang gue ambil dari mbah google. Lemme tell you someting, Jakarta terletak di dataran rendah pada ketinggian rata-rata 8 meter dpl dan merupakan muara dari sungai ciliwung. Letak geografis ini lah yang menyebabkan Jakarta sering dilanda banjir. Untuk mencegah hal tersebut pemerintah Belanda membangun kanal-kanal untuk melindungi Jakarta dari banjir.  Tapi dalam kenyataannya, pembuatan kanal yang sudah direncanakan lebih dari 30 tahun lalu itu menghadapi pembebasan tanah yang berjalan alot. Pembangunannya menjadi lambat. Rencana tersebut tidak kunjung selesai direalisasikan, dan banjir seperti yang kini dirasakan warga Jakarta menjadi kenyataan setiap tahun. Dikutip dari: http://id.wikipedia.org/wiki/Banjir_Kanal_Jakarta

Terlepas dari itu semua, Jakarta adalah Ibu kota dengan tingkat pertumbuhan yang pesat. Ironi, saat melihat kota metropolitan ini tergenang air dan melumpuhkan segala aktifitas yang ada. Kota yang di bilang gak pernah tidur ini dalam sekejap jadi gak karuan. Rumah-rumah terendam air, macet dimana-mana, bahkan ada nenek yang meninggal akibat kedinginan.

Saya memang bukan orang Jakarta asli ataupun tinggal menetap di Jakarta. Tapi dua tahun terakhir ini saya mulai mengenal Jakarta. Sebuah kota yang dirindukan setiap orang dari berbagai daerah untuk mendatanginya, berharap dapat merubah nasib di kota maju itu. Setiap tahun bahkan setiap hari ada saja manusia yang merantau ke Jakarta. Entah untuk bekerja, sekolah atau apa pun itu, baik yang menetap atau tidak. Hal tersebut yang menyebabkan Jakarta semakin sesak untuk di tinggali. Back to topic, Banjir. Tamu tahunan yang selalu mendatangi Jakarta. Banjir datang dengan berbagai sebab, akibat drainase yang tidak berfungsi dengan baik, kali-kali yang meluap karena aliran air terhambat, sampah yang menyumbat aliran air dan lain sebagainya. Entah siapa yang harus di salahkan akibat tragedi ini, sistem pemerintah kah atau pola hidup manusianya? Masalah ini memeng sangat sulit untuk di uraikan darimana permasalahannya, tapi itu semua tidak menutup kemungkinan untuk dapat di selesaikan. Saya bukan lah orang yang paham betul mengenai hal ini, tapi saya bisa merasakah penderitaan yang mereka alami. Menyelesaikan masalah yang sudah menahun ini butuh waktu yang lama, tapi tidak harus menyurutkan niat untuk Jakarta lebih baik.

Sampah, menurut saya itu adalah ujung tombak dari masalah ini. Pertumbuhan manusia di Jakarta tidak terlepas dari kebutuhan mereka yang sangat banyak. Dan semua itu menimbulkan banyaknya sampah yang di hasilkan tidak dapat di kendalikan. Sebenarnya sudah banyak manusia yang sadar dan peduli terhadap lingkungannya. Mulai dari memilah sampah yang dapat di daur ulang atau tidak, mendaur ulang sampah dan sebagainya. Akan tetapi, jika itu masih terlalu sulit di lakukan oleh masyarakat Jakarta, mulailah dengan hal kecil. Yaitu JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN!. JANGAN BUANG SAMPAH KE SUNGAI! Pengetahuan akan kesadaran lingkungan ini harus di tingkatkan, terlebih kepada masyarakat yang mendiami bantaran sungai di Jakarta.



Selain itu, juga ada alih fungsi hutan di daerah Bogor. Disana banyak di buka lahan untuk membangun pemukiman maupun villa-villa yang bisa di bilang lebih komersil. Dan juga penebangan pohon-pohon berkayu keras untuk membuka lahan yang di tanami sayur-mayur dan kebun teh. Dimana tumbuhan-tumbuhan tersebut tidak mampu menampung air dalam jumlah banyak ketika hujan turun sebagaimana fungsi pohon berkayu keras.


Tahun ini mungkin hanya sebagian Jakarta yang terendam banjir. Dapatkah Anda bayangkan keadaan Jakarta beberapa tahun mendatang, jika tidak ada yang dirubah?

Start by Yourself, and Start Now!

0 Comment:

 
Silent Blogger Template by Ipietoon Blogger Template