Monday, March 11, 2013

Perjalanan Pulang

Sudah dua tahun Saya mengenal Ibu Kota. Tempat yang di agungkan bagi para pencari keberuntungan. Dua tahun bukan waktu yang sebentar untuk saling mengenal, dan dua tahun mungkin waktu yang singkat untuk melihat perubahan.
Senin, 11-Maret-2013.

Selama perjalanan pulang, Saya melihat tidak ada yang berubah dari potret Ibu Kota kita ini. Kaki-kaki kecil tanpa alas berlarian menuju metro mini yang sedang Saya naiki, dengan kecrekan dan tepukan tangannya dia bernyanyi. Suaranya parau karena tenggorokannya kering. Tapi ia terus bernyanyi dengan pandang penuh harap. Saya terus memperhatikannya dengan penuh simpati. Rambutnya kemerahan, kulitnya coklat terbakar sinar matahari, dan mataku terpaku pada satu titik. Dia tidak memakai alas kaki. Bagaimana mungkin dia bisa menahan panasnya aspal jalanan yang begitu membakar. Jujur, Saya saja yang memakai sepatu yang ber-sol tebal tetap merasakan hangatnya pijakan besi lantai metro mini itu. Setelah selesai bernyanyi, pengamen kecil itu menengadahkan tangannya kepada penumpang, mulai dari depan. Hingga sampai di tempatku, aku pun mengeluarkan selembar receh untuknya. Dia terus berjalan ke belakang sampai ke penumpang yang duduk di bangku terakhir. Iseng, Saya menengok ke belakang dan melihat jalannya. Astaga, kaki kecilnya melepuh dan begitu kotor. Saya langsung memalingkan pandangan ke sebelah kanan. Belum habis memikirkan pengamen cilik itu, terlihat di seberang jalan ada sepasang kakek dan nenek yang sudah renta memangkul beban yang begitu berat di gerobaknya. Kakek yang sudah payah itu menyeret gerobaknya yang berisi, entah lah, mungkin balok-balok kayu, sampah sisa bangunan. Mungkin bebannya berkalilipat beratnya dibanding berat si Kakek. Dengan setia, si Nenek membantu mendorong gerobak yang begitu berat di belakangnya. Bukan hanya sepasang kakek nenek saja yang Saya lihat di sepanjang jalan. Ada pula, seorang ibu yang menggendong bayinya sedang mengemis di kaca-kaca mobil yang berhenti saat lampu merah. Di sisi yang lain, banyak pedagang asongan yang menjajakan dagangannya, tak peduli dengan mobil yang berlalu lalang di dekatnya. Pemandangan yang terpampang nyata ini sangat kontras dengan berjejernya gedung-gedung konvensional tempat berlangsungnya perekonomian Indonesia. Ironi, saat melihat mereka dengan asiknya santap siang di tempat yang terjamin kebersihannya, dengan pendingin yang membuat siapa saja nyaman berlama-lama di sana. Sedangkan, di luar sini? Jangan kan menikmati makan siang yang lezat atau menikmati sejuknya ruangan ber-AC, mereka seakan-akan takut kehilangan rezekinya ketika mereka sedang berteduh dan istirahat barang semenit.

Tak cukup dengan pemandangan tersebut, saat mentro mini yang saya naiki sebentar lagi akan mencapai tujuan. Saya dibuat terheran-heran kembali dengan melihat poster besar yang terhampar di tembok sebuah bioskop lawas. Poster yang menampilkan film yang dimainkan hari itu. Poster dengan gambar yang menurut Saya sangat tidak berpendidikan itu melambai dengan sexy-nya, menggoda siapa saja yang melintas untuk melihatnya. Siapa saja bisa melihat gambar tersebut, termasuk anak-anak. Dan tidak sepatutnya, anak-anak yang akan menjadi penerus bangsa ini disodorkan gambar yang tidak sepantasnya dilihat mereka. Bagaimana bangsa ini maju, jika banyak pihak yang menggunakan fasilitas publik dengan menampilkan hal yang tidak berkualitas.

Setelah sampai di pemberhentian pertama, Saya melanjutkan perjalanan kembali dengan menggunakan bus. Tidak lama bus berjalan, ada kurang lebih 3 orang yang berorasi, berteriak-teriak meminta belas kasih berupa receh dengan nada memaksa dan mengancam. Mereka bisa disebut dengan preman, tukang palak, pengamen maksa, atau apalah sebutan buat mereka yang hanya mengandalkan screaming tidak jelas untuk menakut-nakuti penumpang agar memberi uang secara paksa. Untuk yang satu ini, Saya bertindak tegas untuk tidak memberi uang kepada siapapun mereka yang melakukan hal hina tersebut. Saya mempunyai persepsi atas keberadaan mereka. Mereka tidak patut di kasihani apalagi di beri uang, mereka bahkan tidak mengasihani diri mereka sendiri. Terbukti dengan tato disekujur badannya, dan terkadang tidak sedikit Saya menjumpai mereka yang tidak sadar alias mabuk. Mereka lebih memilih hidup tanpa makan, daripada hidup tanpa alkohol dan rokok. Oke, cukup tentang mereka.

Bus yang Saya naiki berjalan dengan lancar pada awalnya, sampai bus pun berhenti. Bukan karena mogok atau menabrak sesuatu, tapi karena si Komo lewat alias macet. Panas terik matahari terasa semakin mengganas ketika bus tak bergerak. Seperti terpanggang dan hangus dengan asap polusi yang mengepul hebat dari sisa pembakaran kendaraan di Ibu Kota. Begitu sesak seakan tidak ada lagi kadar O2 yang tersisa. Ditambah lagi, bus yang terjebak macet itu dikelilingi kendaraan roda tiga yang berwarna oranye cerah. Dengan seenaknya si sopir kendaraan bersejarah itu tetap menyalakan mesinnya, menstarter berulang kali sehingga menghasilan kabut abu yang begitu tebal, mengepul di udara dan menyiksa sistem respirasi mahluk hidup hingga asapnya meraung di paru-paru. Sungguh keterlaluan siksaannya. Terlepas dari siksaan si oranye, bus pun kembali terjebak macet. Walaupun masih dengan siksa sang matahari namun masih ada sisa O2 yang bisa dihirup. Keringat pun mengucur deras, saat Saya menenggak air mineral untuk mencegah dehidrasi, pandangan saya meloncat ke luar jendela. Geram melihat apa yang berada di sana. Mobil-mobil pribadi berjejer panjang. Bukan hanya satu atau dua mobil yang hanya berisi satu orang yaitu si pengemudi. Mereka asik di dalam mobil yang sejuk karena blower pendingin juga asik memainkan BB nya atau iPod nya. Bayangkan saja, jika 10mobil yang berisikan satu orang itu menaiki angkutan umum seperti Kami, mungkin saja akan mengurangi 10-15 meter kemacetan yang terjadi saat itu. Dan berlaku juga kelipatan. Mungkin kemacetannya tidak akan separah itu. Seandainya mereka tidak terlalu "sok kaya" dan bersifat simpati terhadap yang lain dan mau ikut berdesak-desakan dengan penumpang bus yang lain. Pasti Jakarta gak macet lagi. Dan juga fasilitas kendaraan umum juga harus di perbaiki lagi, agar para pengemudi satu orang satu mobil itu mau menggunakan fasilitas kendaraan yang berkualitas baik.

Setelah menempuh perjalanan hampir 2 setengah jam lebih, Saya pun sampai ke rumah tercinta. Banyak sekali pelajaran yang Saya petik dari perjalanan ini. Semoga saja, Ibu Kota dapat menyelesaikan segala permasalahannya dengan baik. Saya pun akan berusaha untuk menjadi pribadi yang berguna agar dapat membantu sesama dan menjadikan bangsa ini lebih baik lagi :)

0 Comment:

 
Silent Blogger Template by Ipietoon Blogger Template