Thursday, January 9, 2014

TERPUKAU

Tak tau,
Entah darimana perasaan itu muncul,
Entah sejak kapan aku mulai memikirkannya,

Ketika aku bersamanya,
Dia seperti orang yang tak ku kenal,
Ketika jauh,
Dia selalu ku pergoki sedang menatapku,

Di satu hari,
Aku bisa terbuai bagaikan satu-satunya wanita yang ia perhatikan dengan tulus,
Namun, di hari berikutnya,
Dia seolah enggan bertemu denganku,

Entah permainan apa yang sedang ia mainkan,
Aku dibuatnya bingung bukan main,

-----
Hari itu, dia duduk disampingku. Mendengarkan dosen yang mengajar Analsis Regresi. Aku mencatat, dia mencatat, dan sesekali mengobrol. Dalam beberapa detik dia membuat jantungku tersentak dengan “pernyataannya”. Sebelumnya dia memang sudah mengatakan hal ini, tapi tidak terlalu ku gubris. Dan waktu itu, dia menyatakannya kembali. Walaupun dengan nada serius dan tatapan matanya yang sulit ku tebak, dia membuatku bingung. Dia memang sering bercanda dan kadang menyerempet ke hal-hal yang seperti itu. Ah, aku terlalu bingung jadi sulit untuk menjelaskannya.

Dia satu-satunya orang di kelasku yang terbuka dengan komitmen. Ya, komitmen tentang seorang pria yang akan menjalin hubungan dengan wanita. Semacam komitmen tentang pernikahan. Dia orang yang memikirkan tanggung jawab kepada keluarganya. Belakangan aku tau, kalau dia membayar kuliahnya dengan hasil gajinya mengajar di bimbel. Dia tidak memiliki beasiswa atau apapun itu. Dalam perkuliahannya dia cukup baik. Sampai semester kemarin dia mampu mempertahankan IP nya diatas 3. Dan yang membuatnya berbeda, dia tidak keberatan duduk di depan ketika ujian, tidak seperti aku dan teman-temanku yang ketika ujian berebutan bangku di belakang. Dia seperti orang yang harus aku contoh. Satu hal lagi, dia selalu mengingatkanku untuk olah raga.

Aku dibuat pusing bukan kepalang dengan perasaanku saat ini. Dia tidak keberatan, dengan adanya kaka tingkat yang sedang dekat denganku sekarang. Aduh, mikir apa aku ini. Memangnya aku mengharapkan seperti apa sikapnya setelah itu. Entahlah, tulisanku kacau seperti pikiranku sekarang.

Suatu hari ketika kita sekelas hang out bersama ke sebuah tempat karoke. Aku melihatnya pertama kali bernyanyi, dia sedang berduet dengan temanku. Saat itu, entahlah, aku terpukau. Dia bisa bernyanyi. Semenjak itu, aku jadi menantinya untuk memegang mic lagi.

Untuk sekarang, dia seperti abang buatku. Dia dewasa dan bertanggung jawab. Dia bisa memberi contoh dan memotivasi diriku untuk lebih baik lagi.

0 Comment:

 
Silent Blogger Template by Ipietoon Blogger Template