Tak tau,
Entah darimana perasaan itu muncul,
Entah sejak kapan aku mulai memikirkannya,
Ketika aku bersamanya,
Dia seperti orang yang tak ku kenal,
Ketika jauh,
Dia selalu ku pergoki sedang menatapku,
Di satu hari,
Aku bisa terbuai bagaikan satu-satunya wanita yang ia perhatikan
dengan tulus,
Namun, di hari berikutnya,
Dia seolah enggan bertemu denganku,
Entah permainan apa yang sedang ia mainkan,
Aku dibuatnya bingung bukan main,
-----
Hari itu, dia duduk disampingku.
Mendengarkan dosen yang mengajar Analsis Regresi. Aku mencatat, dia mencatat,
dan sesekali mengobrol. Dalam beberapa detik dia membuat jantungku tersentak
dengan “pernyataannya”. Sebelumnya dia memang sudah mengatakan hal ini, tapi
tidak terlalu ku gubris. Dan waktu itu, dia menyatakannya kembali. Walaupun
dengan nada serius dan tatapan matanya yang sulit ku tebak, dia membuatku
bingung. Dia memang sering bercanda dan kadang menyerempet ke hal-hal yang
seperti itu. Ah, aku terlalu bingung jadi sulit untuk menjelaskannya.
Dia satu-satunya orang di kelasku
yang terbuka dengan komitmen. Ya, komitmen tentang seorang pria yang akan
menjalin hubungan dengan wanita. Semacam komitmen tentang pernikahan. Dia orang
yang memikirkan tanggung jawab kepada keluarganya. Belakangan aku tau, kalau
dia membayar kuliahnya dengan hasil gajinya mengajar di bimbel. Dia tidak
memiliki beasiswa atau apapun itu. Dalam perkuliahannya dia cukup baik. Sampai
semester kemarin dia mampu mempertahankan IP nya diatas 3. Dan yang membuatnya
berbeda, dia tidak keberatan duduk di depan ketika ujian, tidak seperti aku dan
teman-temanku yang ketika ujian berebutan bangku di belakang. Dia seperti orang
yang harus aku contoh. Satu hal lagi, dia selalu mengingatkanku untuk olah
raga.
Aku dibuat pusing bukan kepalang
dengan perasaanku saat ini. Dia tidak keberatan, dengan adanya kaka tingkat
yang sedang dekat denganku sekarang. Aduh, mikir apa aku ini. Memangnya aku
mengharapkan seperti apa sikapnya setelah itu. Entahlah, tulisanku kacau
seperti pikiranku sekarang.
Suatu hari ketika kita sekelas
hang out bersama ke sebuah tempat karoke. Aku melihatnya pertama kali
bernyanyi, dia sedang berduet dengan temanku. Saat itu, entahlah, aku terpukau.
Dia bisa bernyanyi. Semenjak itu, aku jadi menantinya untuk memegang mic lagi.
Untuk sekarang, dia seperti abang
buatku. Dia dewasa dan bertanggung jawab. Dia bisa memberi contoh dan
memotivasi diriku untuk lebih baik lagi.


0 Comment:
Post a Comment