Dalam Persahabatan, padamu sang pengisi hampa.
Pernah sekali ku memperhatikanmu
Sikapmu
Tatapan matamu
Semuanya tersirat, tapi aku tidak mengerti apa artinya.
Aku takut salah mengartikannya.
Entahlah, aku tak peduli.
Benarkah?
Nyatanya kini, aku memikirkannya.
Mereka ulang kejadian yang telah terjadi.
Dari awal sekali.
Mencari di mana awal mula jejak itu tampak.
Sulit sekali menemukannya,
Terlebih membedakannya.
Aku belum memahamimu sepenuhnya,
Aku mengenalmu, ya.
Tapi aku tidak mengerti dengan sikapmu.
Ataukah, aku yang tidak mengerti diriku?
Perasaanku yang sebenarnya?
Entahlah,
Aku rasa aku hanya bingung.
Aku tak mau ambil pusing, dan menganggap ini semua hanyalah cobaan.
Cobaan bagi komitmen yang kita buat.
Kita?
Aku rasa komitmen yang aku buat.
Dan komitmen yang kamu buat.
Adil bukan?
Aku tidak ingin mempermasalahkan ini lebih jauh lagi.
Aku takut mempertanyakan hal-hal yang semestinya tidak ada.
Aku takut mempertanyakan tentang hatiku.
Aku ingin seperti ini saja.
Menganggap semua itu hanyalah khayalan konyol ku saja.
Bisakah?
Bisa! Harus bisa.
Aku ingin bersikap biasa.
Aku ingin kamu pun.
Ini hanyalah langit mendung,
Yang sebentar lagi akan cerah.
Seperti cerita kita.
Semoga akan terlupakan dengan berakhirnya liburan kita.
Aku berharap tidak ada lebih banyak lagi kenangan yang kita buat.
Tidak ada lagi jejak-jejak itu.
Monday, January 27, 2014
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 Comment:
Post a Comment