Saturday, February 15, 2014

Masih Belum

Padamu yang namanya tak ku tuliskan lagi.

Ketika kau, yang ku maksud, sedang membaca tulisanku ini, aku ingin memohon maaf yang sebelumnya. Aku tahu, dan aku sudah menduga kau akan membaca ini. Karena memang begitulah dirimu. Selalu membaca yang aku tulis, selalu mendengar yang aku ceritakan, selalu setia bersamaku ketika yang lain menajuhi-ku, kau pembaca setia ku.

Sejujurnya, aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku tahu, jutaan, milyaran, bahkan triliyunan kata yang ada di dunia ini. Tapi tidak ada satu-pun kata-kata yang dapat ku gunakan dalam pembicaraanku agar kau mengerti, mengerti maksud di dalam hatiku. Maka dari itu, aku tuliskan maksud hatiku di sini, dengan ini, surat 'online'. Aku bukannya malas untuk menulis, membeli perangko atau pergi ke tukang pos. Hanya saja, ketika ku goreskan pena, banyak sekali kesalahan yang aku buat. Aku tidak ingin kau bingung membaca tulisanku. Dan aku tahu, bahwa kau tahu, aku bukan orang yang pandai untuk menulis tangan.

Maaf, aku terlalu banyak menggunakan kalimat-kalimat pendahulu.

Aku bingung, sampai detik ini aku masih bingung. Apa yang harus aku ketik? Banyak yang ingin hatiku ungkapkan.

Aku tahu, kau tahu maksudku menuliskan ini. Karena kau selalu begitu. Aku hanya tidak ingin menyakitimu lebih dari ini.

Bahkan untuk mengetik pun aku tak sanggup. Maafkan aku, karena telah membuatmu bingung. Mungkin suatu saat nanti, ketika hati dan pikiranku lebih tenang, aku akan mengatakannya dengan jujur.

Terimakasih, kau telah membaca surat yang belum selesai ini.

0 Comment:

 
Silent Blogger Template by Ipietoon Blogger Template