Di sore yang penat. Setelah seharian di jejali berbagai
kegiatan, kuliah beserta tugas-tugasnya. Setelah masalah-masalah yang
hilir-mudik datang dan pergi. Penat, lelah, capek, hanya kata-kata itu yang
terucap dari seluruh badan. Di saat semuanya tidak terlihat menarik untuk
dilakukan kecuali pulang dan tidur. Saat itu, kamu lewat dengan wajah teduhmu. Entahlah,
sekujur tubuh ini seperti disiram air yang dingin dan menjadi segar seketika. Gombal.
Memang. Tapi itu nyatanya. Aku merasa seperti di setrum sesuatu yang membuat
mataku kembali fresh. Kamu bersinar
sekali sore itu, ditambah dengan jingganya senja. Berkilau.
Aku malu menjadi pemuja rahasiamu. Terlebih, aku tidak bisa
berhenti membayangkanmu. Tapi, kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan
mengganggumu, apalagi membuatmu risih. Aku hanya akan mengagumimu dalam diam. Aku
hanya akan memujamu dalam tulisan. Aku hanya akan menyebutkan namamu dalam
doaku. Doa kebaikan untukmu, tentunya.
Terkadang aku membenci diriku yang menjadi wanita. Yang tidak
dapat mengungkapkan perasaannya duluan. Dan yang bisa dilakukan hanya menunggu.
Menunggu yang entah sampai kapan. Merangkai kata, membuat cerita dan menulis
puisi cinta. Mungkin itu yang hanya aku lakukan dalam sela waktu ‘menunggu’. Berharap
suatu saat nanti kau sempat atau tidak sengaja mebacanya. Menyedihkan. Tapi tidak,
aku senang melakukannya. Aku senang merasakan debaran-debaran ini, saat aku
menulis untukmu dan membayangkan sosokmu, tentunya.
Untukmu yang sore itu bersinar.
Jikalau tiada hari dimana kau tidak sempat membaca
perasaanku ini, aku sudah menitipkan pesan pada Tuhan. Biar Tuhan yang
membisikkannya langsung padamu.
-NS


0 Comment:
Post a Comment