Tidak ada yang abadi di dunia ini. Setiap yang hidup akan mati. Setiap yang muda akan tua. Setiap yang kecil akan tumbuh besar. Dan setiap ada perjumpaan akan ada perpisahan.
Tidak ada yang abadi di dunia ini. Satu kaliamat yang mutlak untuk terjadi. Tidak bisa dihindari bahkan ditentang sekalipun.
Aku, Kamu, Kita. Dipertemukan dengan ketidaksengajaan yang telah direncanakan. Berkenalan, berteman, bersahabat. Dalam senang maupun sedih, aku, kamu, kita, selalu bersama. Menjalin cerita yang tergores indah dalam lembar catatan usang. Memberikan warna yang dapat dilihat bahkan dirasakan, ajaib. Membuat kenangan yang akan selalu diingat dan dirindukan. Menghasilkan sederet emosi yang dikeluarkan, senang, sedih, haru, rindu, tawa, tangis.
Aku, Kamu, Kita. Bagaikan pohon kelapa yang mana setiap goresan di batangnya tidak akan hilang, karena pohon kelapa tidak memiliki kambium. Begitu pula memori ini, yang tidak akan hilang karena di dalam otak ini tidak ada sensor delete yang akan menghapus semua kenangan yang sudah tergores.
Aku, Kamu, Kita. Terikat dengan sebuah janji kesetiaan. "Tidak akan terpisah oleh jarak, tidak akan lekang oleh sang waktu". Begitu bahagianya karena akan selalu bersama, tidak terpisahkan, tidak sendirian, tidak dilupakan. Tapi itu semua hanyalah klise! Janji manis namun palsu.
Aku, Kamu, Kita. Berjalan menuju masa depan, masing-masing. Sekarang hanya ada aku, atau kamu, bukan kita. Dunia menapar habis-habisan, membuat semuanya sadar bahwa tidak ada kebersamaan yang abadi. Sekali lagi, tidak ada yang abadi di dunia ini.
Mengapa kita dipertemukan jika harus dipisahkan? Apakah ini adil untuk semua yang telah kita jalani bersama? Mengapa kebersamaan kita tak abadi?
Tuhan, jawab tanya-ku.
Tidak ada yang bisa aku lakukan untuk membuat semuanya kembali seperti dulu. Aku lemah, tak berdaya pada sang pemilik waktu. Hanya selembar kertas ini yang bisa mengingatkan kepada masa lalu. Enam baris anak perempuan yang bergaya dengan sekenaknya sendiri, terpampang deretan gigi-geligi yang dibatasi oleh senyum lebar. Paras kebahagiaan, kebebasan, kebersamaan, kepolosan, semuanya terambil dengan sangat jelas dalam kamera poto. Seakan mereka punya dunianya sendiri. Seakan besok akan sama bahagianya dengan hari ini. Seakan tidak ada yang dapat merebut salah satu dari mereka.
Tapi sayangnya sang waktu berkata lain. Hari itu adalah hari terakhir mereka bersama-sama. Terkahir mereka ber-enam. Waktu dan jarak perlahan mengambil kebersamaan mereka.
Mengapa kita dipertemukan jika harus dipisahkan?


0 Comment:
Post a Comment