Untukmu kasih di bulan September
Hay kamu yang disana, masih ingat awal pertemuan kita? Aku menunggumu selama kurang lebih setengah jam. Duduk sendiri di bangku panjang, mengamati lobby yang hampir kosong. Sebenarnya bisa saja aku pergi dan berpura-pura marah lalu tidak bertemu denganmu lagi selamanya. Tapi itu tidak aku lakukan, aku tetap menunggumu dengan tidak sabar di lobby itu. Dan ketika kau datang aku tidak menyadarinya. Aku sibuk dengan sms teman-teman yang menyemangatiku. Kemudian ada satu sms darimu yang mengabarkan kau sudah sampai dan kau bertanya warna baju apa yang aku pakai. Pertanyaan yang lucu mengingat lobby itu benar-benar sudah kosong, hanya ada aku. Tapi aku tetap membalasnya, warna baju yang hampir sama denganmu. Ketika tatapan kami bertemu, kamu langsung menghampiriku, membawaku pergi dari lobby itu. Sebenarnya aku berharap lebih padamu waktu itu. Membawa sesuatu yang manis untukku sebagai bentuk pernyataan cintamu atau paling tidak untuk menebus dosamu yang terlambat di hari itu. Tapi ternyata tidak, kau datang dengan mukamu yang lusuh dan penuh keringat. Tidak membawa apapun untukku. Sedikit kecewa tapi terbalas dengan percakapan singkat hari itu, sekitar lima belas menit. Lalu kamu antar aku pulang, sebenarnya hanya sampai aku naik metro mini. Dan hari itu berakhir.
Bulan September tahun lalu adalah bulan teraneh yang pernah aku rasakan. Mengapa tidak? Kita begitu canggung ketika bertemu, melihatmu saja sudah membuatku berdebar dan lucunya pada saat itu aku menata kalimat demi kalimat yang ingin aku ucapkan kepadamu. Pernah suatu hari kau menungguku pulang kuliah, lalu kita duduk di DPC (Dibawah Pohon Ceri). Duduk berdua dalam diam. Cukup lama sampai akhirnya ada salah satu diantara kita yang memulai percakapan dan akhirnya kita mengobrol sampai tidak sadar hanya kita berdua yang masih di tempat itu. Sampai-sampai anak-anak FIK meledek kita dan membuat kita tidak nyaman lalu kita memutuskan untuk pergi. Semenjak saat itu, rasa canggungku mulai berkurang. Dan berusaha menjalani hubungan ini dengan baik.
Tidak pernah terpikir olehku kisah kita akan berakhir seperti ini. Sungguh di sayangkan, mengingat aku selalu membayangkan perayaan satu tahunan kita jadian seperti yang di rayakan para pasangan pada umumnya. Aku selalu memikirkan kado apa yang akan aku berikan padamu jika hari itu tiba. Tapi ternyata waktu berkata lain.
Awal pertemuan kita, pertemuan-pertemuan selanjutnya hingga saat ini, akan menjadi memori yang aku jaga agar selalu indah pada tempatnya.


1 Comment:
iya makasih ya :D
Post a Comment