Bingung mau mulai dari mana.
Keadaan gue hari ini ancur banget, mulai dari mata yang bengkak, make up yg ketebelan (maksud hati pengen nutupin mata bengkak, tapi..), terus asal aja pake baju buat ke kampus (jeans yg kemaren, kaos belel dan jaket yg gue lupa terakhir di cuci kapan-_-). Ancur seancur-ancurnya!
Sebenernya gue gak mau inget-inget lagi kejadian kemarin malam. Tapi, semakin ingin dilupakan malah semakin teringat. Jadi apa daya, gue sesak seharian. Hhhhhhhhhh
Gue masih belum bisa menerima kenyataan kalau kemarin gue di tampar habis-habisan sama perkataan teman gue. baca: TEMAN.
Haaahhhhhhhh huuuuuuuuuhhhhhhhhh (ceritanya lagi tarik napas, biar tenang..)
Gue mau nannya, menurut kalian lebih baik mana. Teman yang baik tapi ternyata dia mengumbar aib kalian dan membicarakan kalian dibelakang atau teman dengan prilaku yang kurang baik (misalnya suka nyablak kalo ngomong) tapi tetap menjaga semua kejelekan kalian dan tidak membicarakannya di depan orang banyak??????
Kalian tau, gak ada manusia yang diciptakan sempurna. Yang ada manusia yang berusaha menjadikan dirinya lebih baik. Gue, yang termasuk manusia yang sedang 'belajar' menjadi lebih baik. Tau gak sih, dulu gue gak begini amat nyari teman. Gue ya jadi apa adanya diri gue. Natural dan gak dibuat-buat, gue bebas berekspresi dan gak terkekang. Toh, lama kelamaan teman-teman gue juga menerima gue apa adanya. Tapi ko, gue heran kenapa sekarang berteman rasanya susah dan mahal sekali untuk gue dapatkan. Kenapa mereka yang sekarang banyak menuntut dari gue?
Gue udah belajar menjadi lebih baik, seperti yang mereka pinta. Walaupun tak banyak yang merasakan hal itu, tapi gue sudah berusaha. Tapi nyatanya, setelah gue berusaha 'sendiri', tidak ada yang berubah dari perlakuan mereka Mereka sudah men-judge gue dengan sikap gue yang seperti itu. Jadi sekeras apapun usaha yang gue lakukan, nyatanya percuma saja. Mereka masih menyimpan ruang buat gue dengan sikap gue yang gak mereka suka. Mereka sendiri yang tidak membiarkan gue bebas dari kekangan itu!
Kalian tau? Gue capek berkorban sendirian. Gue sudah berusaha menjadi yang mereka mau, tapi kenapa mereka tidak memberikan gue kesempatan. Kenapa mereka tidak mau menciptakan lingkungan yang mendukung untuk gue?!
Heeeeemmmmppphhhhhhhhh haahhhhhhhhhhhh (tarik napas, lagi)
Kemarin malam adalah malam yang paling GAK MAU GUE INGAT seumur hidup!
Emang salah gue yang maksa dia buat ngomong. Tapi itu di luar ekspetasi gue (kalo dalam statistika, berarti pengujian yg gue lakukan tolak H1). Gue gak tau harus mulai cerita dari mana, kalau dari awal gue ketemu dia? hemm kejauhan. Dari awal deket sama dia? hemm lumayan sih. Tapi mulainya dari yang dia ngejauhin aja deh. Kayanya lebih cepet buat di ceritain, hehe
Oke, awalnya gue cuek cenderung ketus sama sikap dia yang bikin jarak dan menebarkan kebenciannya ketika ada gue. Tapi lama kelamaan gue gerah juga sama sikapnya yang kaya anak kecil itu. Akhirnya dengan gentle gue memutuskan untuk nannya sama dia. Awalnya gue ragu untuk memulai percakapan ini, ya kalian tau lah. Gue bukan orang yang mau mulai duluan untuk membicarakan masalah apalagi meminta maaf. Tapi akhirnya gue melakukan itu! Gue meminta maaf sama dia yang bahkan gue gak tau gue punya salah apa sama dia. Perlu di catat rekor muri tuh. heee.. Dan yang bikin gue tambah nyesek, adalah saat dia bilang kalau gue gak serius minta maafnya. HELLoooo!! Setelah dilema yang gue alami, tega sekali orang itu berkata segitu tak berperasaan. Hhh
Dan setelah segala perentelan perckapan yang gak mau gue inget itu, gue bisa menarik sebuah kesimpulan. Kalau ternyata dia sama saja seperti mereka yang itu. Awalnya gue pikir dia orang yang oke banget buat di jadiin sahabat. Soalnya kalau sama dia, gue bisa jadi diri gue sendiri. Gak dibuat-buat, gak perlu pake topeng seperti yang gue lakuin ketika bersama mereka. Dulu dia itu pendiem banget, suka ngegombalin gue, suka bikin gue ketawa, suka bikin gue kesel gara-gara ngejitak gue mulu. Hhhh dulu gue nyaman banget curhat sama dia, cerita apa aja tanpa harus takut dia bocor. Dulu gue percaya sama dia.
Tapi ternyata, gue salah. Waktu telah merubah keadaan. Waktu telah menyadarkan gue bahwa nyatanya, dia bukan temen yang bisa nerima gue apa adanya. Sekarang dia sama seperti mereka, menuntut. Sekarang dia lebih mendengar omongan mereka. Sekarang dia sudah menjadi mereka.


0 Comment:
Post a Comment