Pagi-ku lebih awal dari pagi-mu.
Siang-ku lebih panjang dari siang-mu.
Malam-ku lebih dingin dari malam-mu.
Hari-ku lebih gersang dari hari-mu.
Aku musafir cinta yang tak lelah berjalan dan mencari.
Terus berjalan walau kadang tersesat.
Berhenti sesaat di persimpangan yang bahkan tak terlihat.
Tetap menjaga akal sehat agar tak tertipu fatamorgana.
Aku musafir cinta yang takkan mundur walau terjatuh.
Padang pasir ini sangat luas dan pandanganku hanya menuju satu titik.
Di sini terlalu sunyi, bahkan aku bisa mendengar teriakan dalam pikiranku.
Hanya harapan yang membuatku tetap terjaga.
Aku musafir cinta yang gemar berpetualang.
Ku singgah sementara ketika ku temukan sebuah desa.
Ada desa yang damai menerimaku dan seketika mengusirku.
Ada pula desa yang menolakku mentah-mentah.
Aku musafir cinta yang terus menyemangati hidupku.
Padang pasir ini terlalu berbahaya untuk ku hadapi sendiri.
Kadang tenggorokku nyeri karena kering dan kaki-ku sampai melepuh dibuatnya, yang mengharuskan aku untuk berhenti.
Sejenak.
Aku musafir cinta yang sabar menunggu hujan di padang pasir.
Ketika ku benar-benar lelah, aku melihat bayang-bayang fatamorgana yang memabukkan.
Kadang ku berbelok ke arah yang salah.
Membuang waktuku sekaligus mengajariku akan sesuatu, pengalaman.
Aku musafir cinta yang optimis menemukan taman surga.
Walau tak tau dimana dan kapan aku sampai, aku tetap meyakininya bahwa tempat itu ada.
Tempat untukku bisa pulang dan yang ku sebut dengan rumah.
Hanya sang waktu dan kuasa-Nya lah yang dapat mengabulkannya.
Aku musafir cinta yang akan terus berharap masa itu kan datang.
Saturday, May 25, 2013
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 Comment:
Post a Comment