Thursday, July 7, 2011

Another Him,

Maaf,

Bukan aku bermaksud untuk tidak serius menyukaimu, tapi aku juga tidak bisa membohongi hatiku sendiri. Disaat aku berada di puncak ketidaksadaran karena selalu memikirkan dirimu, ada dia di belakangku. Selalu dibelakangku, bahkan sbebelum rasaku padamu datang, dia sudah ada disana. Tepat di belakangnku! Selalu menemaniku dan menyemangatiku ketika aku hancur. Selalu mengingatkanku ketika aku hilang kesadaran. Selalu jadi pendengar yang baik atas banyolanku yang garing. Selalu ada ketika aku butuh. Selalu ada dia disana.

Jika ada satu kesempatan saja, yang membuktikan kalau kau memberiku harapan. Pasti sampai saat ini aku tidak akan berhenti untuk mengejarmu. Tapi ternyata tidak! Kesempatan itu tidak pernah datang menghapiri. Entah karena tidak ada waktu yang pas, atau lebih karena kau mengacuhkanku. Aku rasa alasan yang kedua yang lebih masuk akal. Selalu ada waktu untuk kesempatan itu. Ya, aku telah mencobanya untuk memulai, tapi kau tidak! Kau tidak membalasnya. Kau seperti menggantungkanku! Saat aku merasa semuanya akan runtuh, dia datang. Memegangku agar tidak terjatuh. Aku senang, ternyata masih ada yang peduli terhadapku. Dan itu dia, yang selalu di belakangku. Yang aku ingat ketika aku hilang keseimbangan untuk bangkit.

Hanya saat-saat tertentu aku mengingatnya, tapi ini bukan berarti aku tidak menganggap keberadaannya selama ini. Aku sadar, betapa ketergantungannya diriku terhadapnya. Ketika aku merasa kosong, dia datang mengisinya dengan kegembiraan. Tak pernahku bayangkan, apa jadinya aku tanpa hadirnya seseorang kawan seperti dia. Dia teman yang baik, sangat baik. Aku rasa gak pernah sekalipun kami bertengkar. Yah, itu yang aku ingat. Aku juga tidak mengerti, kenapa aku bisa sedekat itu dengannya. Tapi yang penting, aku merasa nyaman dengan keberadaannya. Dan yang pasti, aku selalu merindukan untuk bertemu dengannya. Dengan Ami :)

0 Comment:

 
Silent Blogger Template by Ipietoon Blogger Template